SELAMAT OPREK-OPREK
Loading...

Mengenai Saya

Foto Saya
Di balik megahnya dunia nyata ini, terdapat satu dunia unik, asyik, dan seru. Dunia maya. yaitu dunia mainan yang seolah-olah seseorang berada di satu dunia nyata, tetapi tidak dapat melakukan kontak fisik secara langsung. mungkin itu alasan di sebut 'dunia maya'. Melalui blog ini, saya berusaha menjadikan dunia maya sebagai penunjang aktifitas pada dunia nyata terutama dalam bidang pendidikan. Selain sebagai media belajar, blog ini juga dimaksudkan memancing kreativitas pengunjung dan memancing pengetauan tentang internet. Ini bukti bahwa internet memiliki segudang dampak positif. Maju pendidikan Indonesia.

Jumat, 03 Desember 2010

Jumat, 22 Oktober 2010

Puisi

Menanam pohon-pohon akasia

Aku tanam pohon-pohon akasia
Ketika mentari itu jatuh di menara-menara
Semburat wajahnya hingga ke sebelah kota
Hingga terasa di sudut-sudut kumuh
Aku tanam pohon-pohon akasia
Di tengah kecamuknya abad televisi dan media cetak
Mencari berita di kebun-kebun. Tak kutemukan kau
Tak kutemukan burung-burung perkutut
Aku tanam pohon-pohon akasia
Jika langit pun berubah warna hitam
Dibalut tebal asap-asap pabrik. Bagai terlukis di udara
Dan kuhirup bagai tuba
Aku tanam pohon-pohon akasia
Di depan rumah di pinggir kota
Merujuk kembali burung-burung suaranya
Bernyanyi hingga suaranya itu menjadi seperti rayuan Nusantara

Karya: Yaman

Rabu, 02 September 2009

Tindak Tutur Iklan Operator Seluler

1. Tindak Tutur
Tindak tutur adalah peristiwa mengutarakan satuan-satuan lingual oleh seseorang penutur dalam situasi tutur (Wijana 2004:1). Di dalam pengucapan suatu eksresi, pembicara tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkan ekspresi itu. Dalam pengucapan ekspresi itu penutur juga ‘menindak’ sesuatu. Dengan demikian, mengujarkan sebuah tuturan dapat dikatakan sebagai melakukan tindakan, disamping memang mengucapkan tuturan itu.
Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik. Karena sifatnya yang sentral itulah tindak tutur bersifat pokok dalam kajian pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama, prinsip kesantunan, dan sebagainya. Kajian pragmatik yang tidak berdasarkan analisis pada tindak tutur bukanlah kajian pragmatik dalam arti yang sesungguhnya.
Rasionalitas ditampilkannya istilah tindak tutur adalah bahwa di dalam mengucapkan sesuatu suatu ekspresi, pembicara tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkanekspresi itu. Dalam pengucapan ekspresi itu ia juga ‘menindakkan’ sesuatu (Purwo 1990:19). Dengan mengacu pendapat Austin (1962), Gunarwan (1994:43) menyatakan bahwa mengujarkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan, di samping memang mengucapkan tuturan itu. Demikianlah aktivitas mengujarkan atau menuturkan tuturan dengan maksud tertentu itu merupakan tindak tutur atau tindak ujar.

2. Jenis-jenis Tindak Tutur
Searle (1969) mengkategorikan tindak tutur menjadi lima jenis yaitu representative, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi.
a. Tindak Tutur Representatif
Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Jenis tindak tutur ini kadang disebut juga tindak tutur asertif. Termasuk ke dalam jenis tindak tutur jenis ini adalah tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan, memberikan kesaksian, dan berspekulasi. Tuturan di bawah ini termasuk tuturan representatif:
(1) “SMS dari 3 ke 3 GRATIS TERUS”
(2) “XL telepon murah, LANJUTKAN!
Internetan LEBIH CEPAT LEBIH MURAH!”

Tuturan di atas masuk adalam jenis tindak tutur representatif karena tuturan itu mengikat penuturnya akan kebenaran isi tuturan itu. Penutur bertanggung jawab atas kebenarannya tuturan (1) bahwa SMS sesame 3 gratis. Kebenaran tuturan itu dapat diperoleh dari kenyataan bahwa SMS sesame 3 memang benar-benar gratis. Penutur juga bertanggung jawab atas tuturan (2) bahwa penutur menyatakan telepon pakai XL murah dan internetan pakai XL memiliki kecepatan yang tinggi.

b. Tindak Tutur Direktif
Tindak tutur direktif kadang disebut juga tindak tutur imprositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan itu. Tuturan-tuturan memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, ,memerintah, memberikan aba-aba, dan menantang termasuk dalam tindak tutur ini. Berikut tuturan yang termasuk direktif:
(3) “ Pakai XL, sms telepon, internetan, murah…”
(4) “ Pakai kartu As. Banyak pakai, gratis pakai banyak!”

Tuturan di atas termasuk tindak tutur direktif, karena tuturan mengajak mitra tutur (konsumen) agar melakukan tindakan yaitu memakai kartu perdana XL karena tarifnya murah. Begitu juga dengan tuturan iklan kartu As, penutur mengajak konsumen (mitra tutur) untuk memakai perdana As dengan iming-iming gratis pakai banyak. Indikator bahwa tuturan itu direktif adalah adanya suatu tindakan yang harus dilakukan oleh mitra tuturnya.


c. Tindak Tutur Ekspresi
Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebut dalam tuturan itu. Tuturan memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, menyanjung. Termasuk dalam jenis tindak tutur ekspresif. Contoh tindak tutur ini adalah sebagai berikut:
(5) “Telepon pakai GSM awalnya mahal,
Telepon pakai Esia murahnya dari awal nelpon”
(6) “Fren, murah tidak reepot. Enak dibawa kemana-mana
Tak perlu registrasi”.

Tuturan di atas termasuk tindak tutur ekspresi karena tuturan tersebut menyindir atau mengkritik produk lain. Sehingga masuk dalam jenis tindak tutur ekspresi.

d. Tindak Tutur Komisif
Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan dalam tuturan. Berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan merupakan tuturan yang termasuk tindak tutur komisif. Seperti tuturan berikut:
(7) “AXIS murarah banget, iklan ini jujur bukan promo”
(8) “Im3 teleon dan sms hanya Rp 0,1”

Tuturan di atas termasuk komisif karena tuturan mengikat penuturnya atas pernyataan yang dituturkan bahwa Axis benar-benar murah dan iklan tersebut jujur bukan hanya promo begitu juga tuturan iklan Im3 yang menyatakan tarif Rp0,1.

Humor

Definisi tentang humor telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Namun jika definisi-definisi tersebut dicermati, pada prinsipnya tidak jauh berbeda atau memiliki hakikat yang sama.
Apte (dalam Rustono 1997:20) memberi batasa humor yaitu segala bentuk rangsangan baik verbal maupun nonverbal yang berpotensi memancing senyum dan tawa penikmatnya. Wijana (2004:1) menulis bahwa humor adalah rangsangan dan, atau visual yang secara spontan dimaksudkan dapat memancing senyum dan tawa pendengar atau orang yang melihatnya.
Humor merupakan bahasa canda yang mampu bersatu dengan lawan bicaranya di mana saja dalam saat yang tepat membuat suasana menjadi cair dan tidak tegang. Dalam ranah medis, kata humor dimaknai lebih khusus yaitu cairan dalam tubuh. Dominasi salah satu cairan dalam tubuh manusia menyebabkan ketidakseimbangan dan penyimpangan dari situasi normal, dan gelak tawa adalah efeknya. Orang yang memiliki kelebihan humor akan menjadi seorang yang humoristik dan sering menjadi objek tertawaan.
Rustono (1997:3) mengungkapkan humor yaitu segala bentuk rangsangan baik verbal maupun nonverbal yang berpotensi mamncing senyum dan tawa bagi penikmatnya. Rangsangan itu merupakan segala bentuk tingkah laku manusia yang menimbulkan rasa gembira, geli, atau lucu di pihak pendengar, penonton, dan pembaca. Tersenyum dan tertawa adalah indikator yang paling jelas bagi terjadinya penikmat humor, meskipun tidak semua aktivitas tertawa merupakan akibat penikmat humor.
Dari berbagai definisi humor di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat humor adalah segala bentuk rangsangan atau stimulus, baik verbal maupun nonverbal, yang berhubungan dengan hal yang lucu, ganjil, jenaka atau menggelikan.
Faktor yang menunjang terjadinya humor yaitu (1) Partisipan, (2) rangsangan, (3) pengalaman, (4) psikis, (5) situasi dan (6) sosial budaya (Raskin dalam Rustono 2000:38). Humor membutuhkan pembicara atau penulis dan umumnya lebih dari satu pendengar atau pembaca sebagai partisipan. Rangsangan atau stimulus dapat berupa ungkapan yang dibuat, situasi yang terjadi, atau situasi yang dirasakan. Faktor lain yang dapat digunakan untuk mencerna humor adalah pengalaman. Kekurangterjangkauan pengalaman pendengar atau pembaca oleh rangsangan humor pelaku memungkinkan humor itu tidak dapat dicerna dan menimbulkan kelucuan. Faktor psikisdapat menentukan sikap seseorang terhadap humor. Respon seseorang terhadap humor tergantung pada kondisi psikis seseorang pada saat menerima humor. Jika orang tersebut sedang dalam keadaan tertekan, tiak mau diganggu, atau sedang dalam keadaan tidak ingin bercanda, humor yang disampaikan dapat menjadi tidak lucu bagi orang tersebut. Situasi atau keadaan juga merupakan faktor penunjang. Situasi yang tepat menyebabkan humor tesebut berhasil. Kesamaan budaya yang ada dalam rangsangan humor antara pelaku dan pendengarnya merupakan lahan subur bagi terciptanya humor.
Wijana (2004:20) mengemukakan konsep pencipta humor. Ada tiga teori utama, yaitu teori ketidaksejajaran, teori pertentangan, dan teori pembebasan. Teori ketidaksejajaran mengemukakan bahwa humor secara tidak kongruen menyatukan dua makna atau penafsiran yang berbeda ke dalam suatu objek yang kompleks. Menurut wilson (1970:11) ide-ide yang tidak kongruen itu dapat disatukan dengan bunyi yang sama. Seperti wacana di bawah ini:
A : “Masak Peru ibu kotanya Lima, banyak amat?”
B : “Bukan jumlahnya...tapi namanya!”
Wacana di atas menggabungkan dua konsep yang satu sama lain berbeda dengan kata yang secara kebetulan memiliki bunyi yang sama, yaitu Lima.
Sesuatu yang tidak sejajar menurut paham ketidaksejajaran, oleh penganut paham pertentangan dipandang sebagai fenomena yang bertentangan. Misalnya pertentangan antara hal yang sama dengan yang tidak sama:
A : “Kenalkan pak, ini Bung Joni pacarku sopir traktor”
B : “Aduuuh... tadi hampir copot jantungku. Ada traktor datang saya kira mau nggususr rumah kita.”
Dalam wacana di atas terdapat kontradiksi perasaan tertekan dan gembira karena kedatangan Bung Joni (calon menantu) yang semula sang bapak mengira akan menggusur tempat tinggalnya.
Ketidaksejajaran atau pertentangan di dalam wacana humor dikreasikan untuk melepaskan khalayah pembaca dari keadaan penuh tekanan. Terlepasnya pembaca dari tekanan tentu saja terlebih dahulu diawali dengan ditemukannya kaidah kognitif ketidak sejajaran atau pertentangan humor yang bersangkutan.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa humor timbul akibat adanya rangsangan atau stimulus baik verbal maupun nonverbal yang ditunjang oleh beberapa faktor seperti adanya partisipan, pengalaman, situasi yang tepat, adanya konflik, ketidak selarasan, dan sebagainya. Humor dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan tergantung pada kreativitas dan cita rasa kreatornya. Efeknya humor dapat membuat orang tersenyum, tertawa, bahkan tergelitik.