1. Tindak Tutur
Tindak tutur adalah peristiwa mengutarakan satuan-satuan lingual oleh seseorang penutur dalam situasi tutur (Wijana 2004:1). Di dalam pengucapan suatu eksresi, pembicara tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkan ekspresi itu. Dalam pengucapan ekspresi itu penutur juga ‘menindak’ sesuatu. Dengan demikian, mengujarkan sebuah tuturan dapat dikatakan sebagai melakukan tindakan, disamping memang mengucapkan tuturan itu.
Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik. Karena sifatnya yang sentral itulah tindak tutur bersifat pokok dalam kajian pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama, prinsip kesantunan, dan sebagainya. Kajian pragmatik yang tidak berdasarkan analisis pada tindak tutur bukanlah kajian pragmatik dalam arti yang sesungguhnya.
Rasionalitas ditampilkannya istilah tindak tutur adalah bahwa di dalam mengucapkan sesuatu suatu ekspresi, pembicara tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkanekspresi itu. Dalam pengucapan ekspresi itu ia juga ‘menindakkan’ sesuatu (Purwo 1990:19). Dengan mengacu pendapat Austin (1962), Gunarwan (1994:43) menyatakan bahwa mengujarkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan, di samping memang mengucapkan tuturan itu. Demikianlah aktivitas mengujarkan atau menuturkan tuturan dengan maksud tertentu itu merupakan tindak tutur atau tindak ujar.
2. Jenis-jenis Tindak Tutur
Searle (1969) mengkategorikan tindak tutur menjadi lima jenis yaitu representative, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi.
a. Tindak Tutur Representatif
Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Jenis tindak tutur ini kadang disebut juga tindak tutur asertif. Termasuk ke dalam jenis tindak tutur jenis ini adalah tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan, memberikan kesaksian, dan berspekulasi. Tuturan di bawah ini termasuk tuturan representatif:
(1) “SMS dari 3 ke 3 GRATIS TERUS”
(2) “XL telepon murah, LANJUTKAN!
Internetan LEBIH CEPAT LEBIH MURAH!”
Tuturan di atas masuk adalam jenis tindak tutur representatif karena tuturan itu mengikat penuturnya akan kebenaran isi tuturan itu. Penutur bertanggung jawab atas kebenarannya tuturan (1) bahwa SMS sesame 3 gratis. Kebenaran tuturan itu dapat diperoleh dari kenyataan bahwa SMS sesame 3 memang benar-benar gratis. Penutur juga bertanggung jawab atas tuturan (2) bahwa penutur menyatakan telepon pakai XL murah dan internetan pakai XL memiliki kecepatan yang tinggi.
b. Tindak Tutur Direktif
Tindak tutur direktif kadang disebut juga tindak tutur imprositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan itu. Tuturan-tuturan memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, ,memerintah, memberikan aba-aba, dan menantang termasuk dalam tindak tutur ini. Berikut tuturan yang termasuk direktif:
(3) “ Pakai XL, sms telepon, internetan, murah…”
(4) “ Pakai kartu As. Banyak pakai, gratis pakai banyak!”
Tuturan di atas termasuk tindak tutur direktif, karena tuturan mengajak mitra tutur (konsumen) agar melakukan tindakan yaitu memakai kartu perdana XL karena tarifnya murah. Begitu juga dengan tuturan iklan kartu As, penutur mengajak konsumen (mitra tutur) untuk memakai perdana As dengan iming-iming gratis pakai banyak. Indikator bahwa tuturan itu direktif adalah adanya suatu tindakan yang harus dilakukan oleh mitra tuturnya.
c. Tindak Tutur Ekspresi
Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebut dalam tuturan itu. Tuturan memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, menyanjung. Termasuk dalam jenis tindak tutur ekspresif. Contoh tindak tutur ini adalah sebagai berikut:
(5) “Telepon pakai GSM awalnya mahal,
Telepon pakai Esia murahnya dari awal nelpon”
(6) “Fren, murah tidak reepot. Enak dibawa kemana-mana
Tak perlu registrasi”.
Tuturan di atas termasuk tindak tutur ekspresi karena tuturan tersebut menyindir atau mengkritik produk lain. Sehingga masuk dalam jenis tindak tutur ekspresi.
d. Tindak Tutur Komisif
Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan dalam tuturan. Berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan merupakan tuturan yang termasuk tindak tutur komisif. Seperti tuturan berikut:
(7) “AXIS murarah banget, iklan ini jujur bukan promo”
(8) “Im3 teleon dan sms hanya Rp 0,1”
Tuturan di atas termasuk komisif karena tuturan mengikat penuturnya atas pernyataan yang dituturkan bahwa Axis benar-benar murah dan iklan tersebut jujur bukan hanya promo begitu juga tuturan iklan Im3 yang menyatakan tarif Rp0,1.
Tindak tutur adalah peristiwa mengutarakan satuan-satuan lingual oleh seseorang penutur dalam situasi tutur (Wijana 2004:1). Di dalam pengucapan suatu eksresi, pembicara tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkan ekspresi itu. Dalam pengucapan ekspresi itu penutur juga ‘menindak’ sesuatu. Dengan demikian, mengujarkan sebuah tuturan dapat dikatakan sebagai melakukan tindakan, disamping memang mengucapkan tuturan itu.
Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik. Karena sifatnya yang sentral itulah tindak tutur bersifat pokok dalam kajian pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama, prinsip kesantunan, dan sebagainya. Kajian pragmatik yang tidak berdasarkan analisis pada tindak tutur bukanlah kajian pragmatik dalam arti yang sesungguhnya.
Rasionalitas ditampilkannya istilah tindak tutur adalah bahwa di dalam mengucapkan sesuatu suatu ekspresi, pembicara tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkanekspresi itu. Dalam pengucapan ekspresi itu ia juga ‘menindakkan’ sesuatu (Purwo 1990:19). Dengan mengacu pendapat Austin (1962), Gunarwan (1994:43) menyatakan bahwa mengujarkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan, di samping memang mengucapkan tuturan itu. Demikianlah aktivitas mengujarkan atau menuturkan tuturan dengan maksud tertentu itu merupakan tindak tutur atau tindak ujar.
2. Jenis-jenis Tindak Tutur
Searle (1969) mengkategorikan tindak tutur menjadi lima jenis yaitu representative, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi.
a. Tindak Tutur Representatif
Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Jenis tindak tutur ini kadang disebut juga tindak tutur asertif. Termasuk ke dalam jenis tindak tutur jenis ini adalah tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan, memberikan kesaksian, dan berspekulasi. Tuturan di bawah ini termasuk tuturan representatif:
(1) “SMS dari 3 ke 3 GRATIS TERUS”
(2) “XL telepon murah, LANJUTKAN!
Internetan LEBIH CEPAT LEBIH MURAH!”
Tuturan di atas masuk adalam jenis tindak tutur representatif karena tuturan itu mengikat penuturnya akan kebenaran isi tuturan itu. Penutur bertanggung jawab atas kebenarannya tuturan (1) bahwa SMS sesame 3 gratis. Kebenaran tuturan itu dapat diperoleh dari kenyataan bahwa SMS sesame 3 memang benar-benar gratis. Penutur juga bertanggung jawab atas tuturan (2) bahwa penutur menyatakan telepon pakai XL murah dan internetan pakai XL memiliki kecepatan yang tinggi.
b. Tindak Tutur Direktif
Tindak tutur direktif kadang disebut juga tindak tutur imprositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan itu. Tuturan-tuturan memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, ,memerintah, memberikan aba-aba, dan menantang termasuk dalam tindak tutur ini. Berikut tuturan yang termasuk direktif:
(3) “ Pakai XL, sms telepon, internetan, murah…”
(4) “ Pakai kartu As. Banyak pakai, gratis pakai banyak!”
Tuturan di atas termasuk tindak tutur direktif, karena tuturan mengajak mitra tutur (konsumen) agar melakukan tindakan yaitu memakai kartu perdana XL karena tarifnya murah. Begitu juga dengan tuturan iklan kartu As, penutur mengajak konsumen (mitra tutur) untuk memakai perdana As dengan iming-iming gratis pakai banyak. Indikator bahwa tuturan itu direktif adalah adanya suatu tindakan yang harus dilakukan oleh mitra tuturnya.
c. Tindak Tutur Ekspresi
Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebut dalam tuturan itu. Tuturan memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, menyanjung. Termasuk dalam jenis tindak tutur ekspresif. Contoh tindak tutur ini adalah sebagai berikut:
(5) “Telepon pakai GSM awalnya mahal,
Telepon pakai Esia murahnya dari awal nelpon”
(6) “Fren, murah tidak reepot. Enak dibawa kemana-mana
Tak perlu registrasi”.
Tuturan di atas termasuk tindak tutur ekspresi karena tuturan tersebut menyindir atau mengkritik produk lain. Sehingga masuk dalam jenis tindak tutur ekspresi.
d. Tindak Tutur Komisif
Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan dalam tuturan. Berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan merupakan tuturan yang termasuk tindak tutur komisif. Seperti tuturan berikut:
(7) “AXIS murarah banget, iklan ini jujur bukan promo”
(8) “Im3 teleon dan sms hanya Rp 0,1”
Tuturan di atas termasuk komisif karena tuturan mengikat penuturnya atas pernyataan yang dituturkan bahwa Axis benar-benar murah dan iklan tersebut jujur bukan hanya promo begitu juga tuturan iklan Im3 yang menyatakan tarif Rp0,1.

